Wednesday, May 13, 2009

Ambisi Tanpa Melihat Kemampuan Menimbulkan Sakit Hati Dan Melahirkan Kedengkian

Kasak kusuk di sekitar kita , bisik kanan bisik kiri adalah awal mula dari lahirnya sebuah intrik politik , meskipun intrik politik sekalipun hendaknya di tujukan kepada hal hal kebaikan dengan cara cara yang baik juga .

Pada suatu momen saya meliaht sebuah analogi psikologi masyarakat yang cukup menyedihkan , Di mana ambisi yang berlebihan melahirkan suatu kedengkian yang luarbiasa sehingga tanpa di sadari secara tidak langsung masuk dan mempengaruhi kepribadian .

Alkisah , ... Si Fulan yang merasa memiliki kemampuan serta percaya diri yang tinggi karena di dukung kemapanan ekonominya , sebagaimana kebutuhan psikologi semua orang ... yang dia kejar selama ini adalah eksistensi . Hingga pada suatu kondisi si Fulan menghendaki suatu kelompok masyarakat dapat menjadi lebih baik dan ideal ( minimal menurut kacamata dia sendiri ) sehingga selalu menggerutu akan aktifitas di dalam sebuah kelompok tersebut yang di anggapnya kuran begini dan kurang begitu .

Hingga pada suatu saat terjadi rolling kepemimpinan dan si Fulan ingin menjadi tokoh di situ , akan tetapi kalau Maju dia malu entah segan , tapi kalau nggak terpilih menggerutu . Menggerutu saja sih nggak masalah , akan tetapi temperamen jadi naik tinggi dan menjadi kontaminasi dalam psikologi dia . Selalu ingin menunjukkan power dan kekuasaannya meski masih tetap dengan arogansinya yang luar biasa dan akhirnya tanpa di sadari menjadi penyakit dirinya sendiri .

Sebenarnya , percaya diri yang terlalu berlebihan adalah sebuah arogansi , kecuali kalau sebuah arogansi di anggap sebagai sebuah kewajaran di dalam kehidupan bersosial masyarakat lha lain perkara lagi .

Lebih enak kalau bisa nyantai , karena setiap peristiwa adalah sebuah berkah .

No comments:

Post a Comment

Followers